Septian Dwi Cahyo, Sekejap Jumpa yang Tak Biasa


Sejak kecil, saya sudah mengenal dan akhirnya suka pada tokoh yang satu ini. Mengapa? Karena dia hadir dari 'dunia yang berbeda', dalam keunikan yang tak banyak orang menjalaninya. Jadi, ini bukanlah bermula dengan seperti mengagumi aktor film laga misalnya —saya penyuka film action.

Saat itu, ‘panggung pentasnya’ di TVRI pun tak semegah film seri atau sinema barat. Kehadirannya juga tak se-intens para artis penyanyi yang senandungnya diputar berulang-ulang di radio. Tapi, sekali lagi, dia punya eksistensi yang sangat khas. Buat saya, diferensiasi itulah yang mencuri perhatian.

Aksinya memang lucu dan menghibur banyak orang. Pula, amat sangat mudah dikenali. Wajahnya dibalut warna putih, memakai riasan yang eksentrik, dengan baju hitam polos atau dandanan lain yang nyentrik, langsung membetot atensi.

Singkat kata, dialah seniman pantomim nomor satu di Indonesia. Sebutkan namanya, maka dunia pantomim akan melekat sebagai bagian dari perspektif orang tentang dirinya.

Hingga kini, dunia pantomim yang membesarkan namanya tetap digelutinya dengan setia, meskipun dia pernah tampil dalam peran-peran yang berbeda. Sempat menjadi aktor, bahkan sutradara, prestasinya diakui dan dihargai dalam bentuk anugerah di tingkat nasional hingga dunia. Beberapa film dibintanginya, sutradara terfavorit pun pernah diraihnya.

Tak dinyana, pagi kemarin tetiba bisa jumpa dengannya di kawasan Jalan Kaliurang, Jogja. Meski bertemu hanya sekejap saja, terasa sangat bermakna. Ada kesan mendalam atas pribadinya yang ramah, low profile, tetapi tampak bersemangat. Sayangnya, tak dapat berbincang lama.

Saat tahu maksud kedatangannya di Jogja, saya juga kembali teringatkan tentang arti totalitas, konsistensi dan dedikasi pada jalan perjuangan di dalam kehidupan.

Kini, dia juga kerap bertindak sebagai pendamping, motivator dan trainer dalam dunia pendidikan. Tak hanya menikmati dunianya, meraih hasil dari kerja kerasnya, dia pun tak sulit diminta berbagi ilmu pada sesama. Tentu saja, kepakarannya dalam seni pantomim menjadi hal yang utama. Pantomim ternyata juga dapat menjadi sarana positif dalam membangun generasi muda.

Kemauan dan kerja kerasnya dalam karir, dibarengi aktif dalam berbagi ilmu dan wawasan, membuat saya juga seolah kembali tersadarkan. Orang yang terus berbagi, sejatinya tak akan pernah menjadi kekurangan.

Sukses selalu, Mas Septian Dwi Cahyo.

*) juru foto: Kang Haji Drs. Taufik Faturohman.

Post a Comment

No comments