Yang Terlelap di Seberang Sana


Pagi menjelang siang, kami dalam perjalanan pulang, terhenti di dekat sebuah belokan. Lantas, dalam menepi itulah sesosok tubuh terlihat ada di seberang jalan sana, dekat sebuah sepeda yang distandarkan di sampingnya. Meski ia telanjang kaki, nampak ada sandal yang tertutup bagian betisnya.

Tanpa hamparan alas, lelaki tersebut tergeletak begitu saja, seolah menyerah kepada lelah. Ia tertidur. Lelap. Kondisinya cukup mengenaskan, tapi tak cukup waktu untuk menyimpulkan siapa dia. Apakah baik-baik saja?

Bawaan di sepedanya cukup banyak; tas, bungkusan keresek, bahkan di setang sepedanya tergantung tiga buah botol air mineral. Cukup unik. Adakah ia sedang bepergian jauh? Ada kisah orang-orang yang menuju tempat keluarganya, tapi mereka tak punya kesanggupan membayar ongkos angkutan umum, akhirnya menempuh jarak yang amat jauh dengan bersepeda, atau bahkan ada juga yang berjalan kaki.

Ia memilih tidur di depan sebuah toko yang sedang tutup, tepat di pinggir jalan raya. Tak nampak sedikit pun terusik oleh lalu lintas yang sedang ramai-ramainya. Meski di bulan puasa, banyak orang yang bepergian dengan menggunakan berbagai kendaraan. Sebagiannya, hampir pasti menuju pusat-pusat perbelanjaan; membeli baju, makanan dan lain-lain keperluan untuk lebaran. Mereka adalah kaum yang ‘berkecukupan’, meski mungkin sepersekiannya lagi tergolong agak ‘memaksakan’.

Cukupkah perbekalan Si Bapak yang tertidur itu? Menilik kondisinya, rasanya tak mungkin ia menyengajakan diri untuk sengsara. Konon, ada orang-orang yang menjalani hidup susah sebagai penyucian diri, ngelakoni, untuk mendapatkan kemuliaan. Tapi, rasanya tidak untuk Bapak itu. Ia terpaksa saja, saking lelahnya sampai tertidur di sana.

Melihatnya, lantas teringat pada nasib tukang becak yang 24 jam hidupnya praktis benar-benar cuma di atas becaknya. Konon tak hanya satu dua yang seperti itu di kota ini. Alasannya macam-macam, yang ujung-ujungnya membuat mereka tak memiliki rumah dan menjadi ‘manusia becak’. Yang paling menyedihkan, diketahui ada pula yang tak punya keluarga. Tak ada yang mampu menjaga dan menyantuninya. Ini realita, nyata ada, dan mereka hidup siang-malam di atas becaknya.

Beberapa saat yang lalu, sempat dikabarkan sekelompok orang baik menyelamatkan seorang tukang becak yang sudah lemas dan sakit, tak sanggup berobat dan tak ada yang mengurusnya. Itu keadaannya yang sangat berbahaya. Jika mereka sakit, otomatis berhenti juga mendapat penghasilan untuk makan dan hidup sehari-harinya. Andai terlambat, maka kisah manusia becak yang meninggal sambil tertidur di becaknya akan terulang lagi. Masya Allah....

Hingga kami beranjak, Si Bapak belum juga membuka mata. Semoga saja lelap tidurnya memang hanya untuk menghalau rasa lelah saja, bukan karena sakit atau alasan yang mengkhawatirkan. Siapa nyana juga tidurnya ternyata lebih dalam dan sembari berbahagia, lebih baik dibanding mereka yang menggerutu karena meroketnya harga-harga atau beban hidup yang makin membuat frustasi saja. Siapa tahu juga bukan, bahwa ia lebih banyak bersyukur dibandingkan kita?

Post a Comment

No comments