Tol Soker-nya Dibuka, Mudik Lebaran pun Lancar Jaya


Perjalanan para pemudik dari arah barat menuju ke wilayah Jawa Timur pada musim mudik lebaran tahun 1439 H (2018 M) ini dimanjakan oleh kehadiran jalan baru, Tol Soker (Solo - Kertosono). Meski sebagian ruas masih merupakan jalan tol fungsional, kehadiran sarana tersebut sangat terasa manfaatnya. Di sisi lain, sebagian besar ruas masih gratis pula, hehe.

Kami berangkat dari kota Jogja menjelang zhuhur, Kamis (14/6/2018). Sepanjang perjalanan, kondisi lalu-lintas relatif lancar, meskipun di beberapa tempat sempat terhambat oleh keramaian. H-1 lebaran, masih banyak warga masyarakat yang pergi mengunjungi pusat perbelanjaan dan lainnya.

Jika tak ada insiden nyasar akibat terlalu percaya pada Google Maps, kami mungkin akan sampai di gerbang tol lebih cepat. Begitulah, semua pasti ada hikmahnya, inilah hikmah puasa hari terakhir nampaknya: jangan jemawa karena kecanggihan alat atau apapun. Pukul 2.41 WIB, barulah kami masuk Tol Soker via gerbang Kartasura.

Dua orang petugas menyambut kendaraan-kendaraan yang datang, salah satunya memegang megaphone dan mengulang-ulang kalimat "masih gratiiis, masih gratiis!" dengan penuh semangat. Tak nampak kepadatan atau antrian panjang di Gate ini, mungkin karena konon puncak arus mudik ada di H-2 sebelum lebaran.

Melihat penampakan Toll Gate Kartasura ini, saat kami baru berbelok dari Jalan Raya Kartasura-Boyolali, sudah merupakan sensasi tersendiri. Biasanya jalan besar menuju pintu tol kami temui di kota-kota besar saja, membuat kagum akan kilau pembangunan di ibukota sana, atau kota-kota sekitarnya. Itu dulu lho, ya.


Selama belasan tahun, perjalanan mudik ke arah Nganjuk juga identik dengan bayangan lika-liku jalanan menembus hutan Ngawi hingga Caruban, setelah melewati wilayah Solo dan Sragen. Berjam-jam yang penuh perjuangan itu, yang kerap ditambah terhambat macet pula, kini tinggal kenangan.

Anda yang pernah mengalami terpaksa harus sabar saja membuntuti truk tonton yang lajunya pelan, atau tanki ukuran besar, bus-bus dan sebagainya, di jalur Ngawi tersebut, sementara jalur putih tanpa putus melarang menyalip, tentu akan faham bagaimana rasanya.

Kini, hanya satu seperempat jam saja jarak yang melintasi Jateng-Jatim tersebut dapat dilewati. Padahal saat ini masih banyak perlintasan yang belum selesai, sehingga petugas terpaksa menjaga di lokasi-lokasi tertentu, menyetop pengguna tol fungsional agar memberi kesempatan penduduk memakai haknya.


Kami baru diberitahu oleh spanduk-spanduk untuk menyiapkan e-toll card di pintu tol Ngawi. Penggunaan jalur tersebut hingga pintu keluar di Wilangan, membutuhkan pembayaran Rp. 52.000.

Jika sudah beroperasi semua, jarak Kartasura-Wilangan nantinya akan membutuhkan pembayaran yang lumayan, nampaknya. Terlepas dari sepadan tidaknya jika dibandingan dengan jarak dan manfaatnya, kita tentu berharap tarifnya dapat lebih hemat lagi.

Di luar pro-kontra isu viral beberapa waktu belakangan, terkait tol ini, sebuah bukti nyata pembangunan sudah selayaknya mendapatkan apresiasi dan ucapan terima kasih. Jalan tol yang menghubungkan kota-kota Pulau Jawa akan memberi dampak yang hebat.


Catatan lain, kabar bahwa jalur fungsional akan dilewati dengan kecepatan 80 km per jam, ternyata tidak terbukti! Jalan baru ini nyaman ditempuh dengan kecepatan 120 - 150 km/jam. Boleh jadi karena arus sudah berkurang kepadatannya.

Nah, anda sudah menjajal Tol Soker? Jika punya pengalaman, silakan berkomentar. Bagaimana pun, ini catatan kecil pengalaman saja. Boleh jadi ada yang punya kesan berbeda.

Post a Comment

Tidak ada komentar