Prosesi Shalat Id di Jepun Tulungagung, Tradisi Penjaga Simpul Silatirahmi


Berlebaran di kota Tulungagung, tempat keluarga mertua, sebenarnya lebih mirip kembali ke akar budaya para leluhur saya sendiri. Benar, lho. Sebab suasana perayaan Idul Fitri di wilayah ini relatif masih terjaga, bersandarkan pada tradisi nahdliyin (NU) yang kuat dan sudah berlangsung lama, puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

Ritual berlebaran di sini memiliki kemiripan dengan di Ciamis utara, asal-usul leluhur saja, sebut saja kawasan Kawali, Lumbung, Panawangan dan Panjalu sebagai contohnya. Sebagian besar prosesi bahkan boleh dikatakan identik, selain masalah bahasa; satu bahasa Jawa, satunya lagi bahasa Sunda. (Tiba-tiba saya teringat, sejak almarhum Gusdur ngendika, lantas berbondong-bondong bis jamaah ziarah dari Tulungagung dan sekitarnya, datang ke Situ Lengkong Panjalu, karena ada 'pertalian akidah dan sejarah')

Meski perbedaan letak geografisnya cukup jauh, ada pola tradisi yang serupa. Tatacara peribadahan pun demikian, mengingat landasan ajaran yang satu sumber pada awalnya. Contohnya, di dua tempat ini shalat subuhnya sama-sama memakai doa qunut. Zikirnya berjamaah dan jahar. Para laki-laki masih amat kuat menjaga penggunaan sarung dan kopiah untuk melaksanakan shalat. Simbol-simbol keislaman yang lekat dengan dunia pesantren juga akan mudah ditemui.


Maka, sholat Ied pun terasa sangat familiar suasananya bagi saya. Dimulai dengan berkumpul bersama, duduk di masjid dan membaca takbir, tahlil dan tahmid. Ucapan "Allahu Akbar"-nya 3 kali ulangan, berbeda dengan di Yogyakarta. Di Kota Gudeg, di mesjid-meajid yang dipengaruhi ajaran Muhammadiyah, takbir "Allahu Akbar" dilafalkan hanya dua kali saja.


Pelaksanaan shalat Id ditandai dengan penabuhan beduk, lantas diikuti 'aba-aba' untuk mendirikan shalat Id. Imam kemudian memimpin jamaah untuk shalat. Selepas salam, seorang pengurus mesjid berdiri dan bertugas 'menaikkan' khatib ke atas mimbar, mengiringinya dengan doa yang diaminkan jamaah dan barulah ia duduk kembali. Barulah khatib yang berjubah dan berpeci putih menyampaikan khutbah -kini sudah berbahasa Indonesia, sembari memegang tongkat, khas kultur nahdliyin.


Ketika shalat sudah berakhir, jamaah langsung diajak berdiri dan bersalam-salaman di dalam mesjid, sambil ber-shalawat. Para jamaah berdiri berjajar dan berkeliling menyalami satu persatu jamaah lainnya hingga habis.

Terdapat tradisi khas selepas shalat Idul Fitri yang masih terus terpelihara di wilayah Jepun, Tulungagung, dan sekitarnya. Warga yang sewaktu datang ke mesjid membawa bungkusan makanan, akan duduk di serambi mesjid yang luas.


Pengurus mesjid lalu membagikan bungkusan makanan yang sudah terkumpul dari seluruh warga yang datang. Ini mirip acara pembagian 'kado silang'. Semua warga hampir selalu akan kebagian kardus 'ambeng' atau 'berkat', sebab bawaan tiap rumah biasanya dilebihkan jumlahnya sebagai sedekah.

Imam Mesjid lantas memimpin rangkaian doa yang diikuti oleh seluruh hadirin; tua-muda, besar-kecil. Doa-doa itu di antaranya untuk para arwah leluhur, setelah terlebih dahulu bertawasul serta berkirim fatihah kepada Nabi dan orang-orang shalih.


Selepas itu, para hadirin pulang ke rumah masing-masing. Sesudah bermaaf-maafan di rumah, mereka menyantap nasi 'berkat' tersebut. Biasanya menu bingkusan tak jauh berbeda meskipun tak ditentukan, mencakup nasi rames, ayam (lodho), goreng bihun dan mie goreng, kering tempe, atau lain-lainnya yang mirip sajian kendurian.

Tradisi berlebaran di Jepun, Tulungagung, memiliki fungsi sangat penting dalam menjaga kedekatan hubungan bermasyarakat. Meski seolah agak ribet dan membutuhkan waktu lebih lama, tapi prosesi tersebut mempertahankan hubungan silaturahmi yang erat. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Tidak ada komentar