Jebakan Menahan Diri, Kesabaran dan Keikhlasan


Penulis bukanlah ahli agama, ustadz, atau penceramah, jadi mohon maafkan jika tulisan ini yang tak cukup bernas untuk dibagikan. Bahkan rasanya untuk disampaikan dalam mimbar kultum saja masih jauh dari nilai kelayakan. Dan karena ini juga amatlah subyektif, bolehlah dianggap sebagai berbagi pengalaman saja, ya.

Hari masih pagi, baru jam sembilan. Tapi, anak-anak sudah berhamburan menghampiri jemputannya masing-masing. Sebagian lagi berjalan santai, lalu bergerombol di area ring satu alias pos satpam. Ya, hari ini anak-anak SD pulang cepat. Bukan hanya karena sedang bulan puasa, tapi juga praktis kegiatan belajar sebenarnya sudah selesai. Ujian sudah, tugas-tugas sudah, tinggal menanti pembagian rapor saja.

Seorang anak perempuan, sekira usia kelas dua atau tiga, melambai-lambaikan tangan, membuat salah satu temannya segera berlari menghampirinya. Suara Sang Teman lantas terdengar cukup nyaring, "Aku nggak bawa bekaal!" Gagal sudah, acara jajan bersama.

Itulah hikmah pertama yang kudapatkan pagi itu. Seorang anak SD tak jadi jajan, karena tak diberi uang bekal oleh orang tuanya. Alasannya, karena bulan puasa. Secara sadar, orang tuanya sudah mendidik anak tersebut untuk menahan diri. Ya, ada pengkondisian di bulan suci ini. Paling tidak, hasilnya adalah: hemat.

Mari kita bayangkan. Jika satu anak melakukan penghematan Rp. 3.000 saja, lantas dikalikan sekian puluh juta anak, ditambah juga orang-orang dewasa yang melakukan hal sama, sebab tak jajan atau makan siang, maka terbayanglah potensi penghematan umat yang akan muncul.

Dana yang tak dibelanjakan tersebut lantas dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Teorinya ya, dana itu bisa beralih pada pemenuhan kepentingan pendidikan, kesehatan dan macam-macam.

Apakah penghematan seperti itu dapat dilakukan pada selain bulan puasa? Tak semudah itu. Bahkan mungkin sulit. Sekali lagi, ada pengkondisian secara massif untuk menahan diri di bulan Ramadhan ini.

Tapi, benarkah dana yang dihemat itu memang beralih pada donasi untuk kepentingan umat? Sepertinya jauh panggang daripada api. Uang yang dihemat ternyata akan mengalir pada aktivitas lain yang malah menjadi jebakan rutinitas.

Di bulan Ramadhan, nyatanya pemborosan akan muncul pada banyak sisi yang lain.

Misalnya, ketika sesosok mungil kesayangan, yang sebenarnya sekarang sudah besar, tiba-tiba menyergapku. Ia kegirangan dijemput oleh ayahnya.

"Yahhh, aku boleh minta uang, nggak?"

Itulah hikmah kedua, bernama kesabaran. Nyatanya, tak semua orang sudah siap untuk mengimplementasikan hikmah puasa berupa menahan diri. Banyak yang akhirnya membelanjakan uangnya secara berlebihan, kadang di atas batas kewajaran.
Bulan berhemat ternyata secara ironis menjadi bulan pemborosan.

Di satu sisi, patut diakui bahwa Ramadhan dan Lebaran dapat menggerakkan potensi ekonomi yang luar biasa. Entah berapa triliun tepatnya uang yang mengalir pada momen istimewa ini. Tapi, ada baiknya juga sebentar kita renungkan. Sejatinya, siapa yang paling besar mengeruk keuntungan?

Apatah lagi, terdapat semacam kesepakatan bahwa belanja untuk Lebaran adalah hal yang benar, sudah sepatutnya dan menjadi sumber kebahagiaan. Maka muncullah jebakan kesabaran.

Bukan sabar menghayati derita lahir batin orang-orang yang tak mampu makan (dengan menjalankan puasa) karena keterbatasan, tetapi juga sabar dalam menerima bahwa harus ada perbekalan dana sekian untuk membeli baju lebaran dan kawan-kawan. Kata siapa urusan itu tak menimbulkan tekanan?

"Ayah kasih uang, ini dua puluh ribu nih, tapi cuma boleh jajan tiga ribu rupiah saja ya, kembaliannya kasiin Ayah lagi!" Dia mengangguk, terlihat senang. Matanya bak gemintang, menyiratkan kecerdasan.

Pada akhirnya, kita memang -mau tak mau- harus berkompromi dengan keadaan. Bahkan orang tua paling shalih pun kadang luntur juga perasaan, manakala membayangkan anak-anaknya memakai baju usang saat jumpa para sepupu atau keluarga besar di hari Lebaran. Belum lagi, jangan sampai dianggap sebagai orang tua yang tak memperhatikan anak-anaknya dan dilecehkan. Ya, jebakan lagi. Sebuah penyemangat yang bisa-bisa jadi tekanan.

Dua hal yang kusimpulkan, pada akhirnya adalah: jangan berlebih-lebihan merayakan kegembiraan. Jika harus berkorban untuk mudik, mendandani anak dan sekedar jalan-jalan, asalkan mampu, tak apa-apalah dikerjakan. Sembari membahagiakan orang tua di kampung halaman, moga jadi perjuangan yang membawa kebaikan.

Tapi, tidak untuk berlebih-lebihan! Tidak, untuk belanja segala macam, hingga tak jelas lagi apa yang dimaksudkan. Tidak, untuk kesia-siaan!

Demikian saja tulisan tentang jebakan-jebakan. Sebagai sebuah catatan kecil, mohon dilihat sebagai sekadar pengingat agar tak salah mengambil langkah.

Oya, masih ada satu lagi jebakan.

"Ini Yah, kembaliannya."
"Lho, kok kembaliannya cuma lima ribu, nak?"
"Aku beli ini...." Hhh, lemes deh.

Jawaban itu senada dengan pengakuannya tempo hari, "Aku sebetulnya mau nabung, tapi aku nggak bisa berhenti. Aku terhinotis mainan...." Bujubuneng!

Itulah pelajaran paling akhir: keikhlasan. Apakah itu jebakan? Terjebak untuk ikhlas? Mainan itu di tempat lain akan berwujud kendaraan, gadget, baju, sepatu, perhiasan, apa-apa lagi lainnya, yang sebenarnya tak perlu berlebih-lebihan, apalagi bermegah-megahan.

Sepertinya memang kualitas puasaku pun pada akhirnya harus kembali dipertanyakan. Ya, Allah....

Post a Comment

Tidak ada komentar