Menanti 'Sastra Sunda Saba Yogya', Bukan Jumpa Biasa


Suara gamelan Jawa yang 'ulem' adalah yang bunyinya tidak keras tapi juga tidak pelan-pelan. Ditabuhnya sedang-sedang saja, tetapi malah menentramkan hati pendengarnya. Maka, 'uleman' - turunan katanya- mengandung konotasi sebagai sebuah ajakan yang bukan mengharuskan, tidak menyuruh, melainkan memberitahu sembari mengharapkan kehadiran.

'Uleman' sejatinya disampaikan oleh si empunya hajat dengan mengedepankan penghargaan, kerendahan hati dan kehalusan budi. Analogi yang senada diungkapkan oleh sastrawan Jawa senior, Imam Budi Santoso (70), ketika menyoal mengapa surat lamaran kerja memakai kata 'saya' meskipun kita mungkin terbiasa memakai 'aku'. Kata 'saya' merupakan perubahan dari 'sahaya' yang bermakna abdi atau kawulo, menunjukkan sikap merendah pada lawan bicara.


Kata 'uleman', atas dasar itu, maka dirasa tepat menjadi judul pemberitahuan, sebuah ajakan berkumpul pada event langka yang akan menjembatani silaturahmi para pegiat sastra Jawa dan Sunda. Kegiatan bertajuk 'Sastra Sunda Saba Yogya' tersebut kini sedang menghitung hari menjelang pelaksanaannya. Pada rancangannya, tak hanya sastrawan saja yang akan terlibat, melainkan banyak seniman lainnya, baik seni rupa maupun seni karawitan, yang ikut dihadirkan.

Acara jumpa santai sembari bertukar pikiran ini digagas secara cerdas oleh Dr. Alex Luthfi, perupa sekaligus akademisi kelahiran Jawa Timur, dan istrinya yang seorang penari serta penulis Sunda, Nena Cunara, kelahiran Ciwidey, Bandung. Kegiatan ini akan berlangsung di sanggar mereka, 'Saung Banon Arts', Sabtu (5/4/2018) di Jalan Godean km 7,5, Desa Sidokarto, Godean, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertemuan pegiat seni dan sastra dari Sunda dan Jawa di Yogyakarta, bagaimanapun juga, amat menarik untuk dicermati dan dinantikan bulir-bulir bernas hasilnya. Demi melihat antusiasme sastrawan sepuh Imam Budi Santoso dan perupa senior Totok Buchori, Ketua Sanggar Bambu Jogja, yang turut hadir pada pertemuan panitia, ditambah kesediaan hadir belasan sastrawan kawakan Tatar Sunda pada waktunya, maka tak pelak lagi 'Sastra Sunda Saba Yogya' ini akan menghasilkan banyak hal menarik dan konstruktif bagi perkembangan dua kutub penting sastra lokal di Nusantara. Semoga.

Post a Comment

No comments