Sepenuh Hati Registrasi Simpati


Sudah puluhan kali saya mengirim SMS ke Telkomsel, dalam rentang waktu cukup lama, sejak awal diumumkan harus registrasi ulang. Tapi, gagal dan tetap gagal lagi. Gemas, tentunya. Padahal, nomor KTP dan KK yang dimasukkan sudah benar. Format juga sudah benar. Bahkan registrasi dengan nomor-nomor tersebut sudah berhasil di operator seluler lain, yang tidak usah saya sebutkan namanya, yang jelas dua huruf saja nama tenarnya.

Karena sudah menjelang penutupan masa registrasi, akhirnya saya mencoba lagi registrasi dengan setengah hati. Ada yang bilang kita kirim SMS berulang kali, seperti membuka perasaan pujaan hati, siapa tau akhirnya luluh juga dan mau menerima. Tetap saja, gagal! Jawabannya: nomor identitas salah. Padahal, nomor-nomor itu resmi dari pemerintah kota Yogyakarta, lho, bukan dari dukun penyedia nomor undian Porkas. Porkas? Apa itu?

Saya sudah pula menelepon call center Telkomsel. Lalu registrasi dengan cara lain dan mengirim pesan Whatsapp ke Dukcapil Kemendagri seperti saran petugas call center teraebut. Tetap tak ada hasil. Pesan WA malah teu dibuka-buka acan, alias tak ada tanda centang sudah dibaca. Atau settingan WA-nya disetel begitu, mirip kalau seseorang tak mau ketauan sudah baca, padahal diam-diam selalu menanti pesan dari seberang sana? Aih.

Ya sudah, finally memilih menghubungi call center Dukcapil. Petugas call center Telkomsel sebelumnya sudah memberitahu, bahwa nomor telpon dukcapil menggunakan TARIF PREMIUM! Whattt? Sungguh?

Tapi, demi menjadi warga yang taat, ya sudahlah... sambil terpikir menghabiskan pulsa kartu yang konon bakal diblokir juga kalau tidak terregistrasi. Penasaran juga, coba saja lah.

Tak cukup sekali calling untuk tersambung dengan Dukcapil. Berkali-kali gagal, sepertinya sibuk sangat. Tapi, akhirnya berhasil. Daaan.... ternyata ramah sekali... mesin penjawabnya. Lalu, saya dengan setia sebelas kali memijit angka 1, ketika ada jawaban, "maaf petugas kami sedang melayani telpon lain, silakan tekan angka 1 jika anda ingin menunggu atau silakan menelepon dalam beberapa menit lagi...."

Pastinya sibuk ya, hari ini hari terakhir registrasi. Dan akhirnya... tetap tidak ada petugas yang berkenan mengangkat telepon. Jangan-jangan masih ribuan orang yang masih antri di jalur telepon. Yah, kita kan harus empati, urusan pemerintah kan begitu banyak.

"Terima kasih sudah menghubungi kami...." Tut... tut... tut....

Ah, ya sudah. Ikhtiar kan sudah. Pulsa amblas hati pun memelas..... 😁😎😱✌️

Anda punya pengalaman serupa?

Post a Comment

Tidak ada komentar