Rehat Berharga di Masjid Ambarukmo Plaza


Masjid memang harusnya seperti ini barangkali, ya? Belum adzan saja sudah penuh jamaahnya. 'Jaman now' ini masjid-masjid besar juga sepertinya memang harus memiliki, atau paling tidak lokasinya terhubung langsung dengan fasilitas public service, baik kesehatan, pendidikan, sarana belanja, atau bahkan wahana wisata keluarga di dekatnya. Tentu diatur, agar tak mengganggu citra kesucian masjidnya. Ironis, beberapa -atau bahkan banyak- tempat tujuan kunjungan keluarga, semisal mal, sangat sempit dan tidak layak mushallanya. Pernah lihat atau alami sendiri?

Masjid Plaza Ambarukmo selayaknya mendapatkan apresiasi. Terletak di bagian atap bangunan pusat perbelanjaan moderen di Yogyakarta, menempati salah satu sudut area parkirnya, petang ini jamaah sholat maghribnya tak tertampung di ruangan bagian dalamnya. Padahal ukuran luasnya sudah lumayan lega.

Desain bangunannya cukup istimewa, tak asal-asalan apalagi hanya memanfaatkan space sisa. Sarana untuk berwudhu pun tersedia dengan baik, meskipun sayangnya akses jalan jamaah laki-laki dan perempuan masih bisa tercampur atau berpapasan. Tapi, ini sudah jauh lebih baik bila dibanding pusat perbelanjaan lain (yang tak usah disebutkan namanya).

Pengunjung yang sudah berada di dalam masjid tampak duduk tenang, bersabar menanti kumandang muadzin. Beberapa melaksanakan shalat sunat tahiyatul masjid. Selepas adzan pada pukul 18.08 WIB, para jamaah lalu diberikan kesempatan untuk mendirikan shalat sunat dahulu.

Seseorang yang berpakaian karyawan, sangat bersahaja (ia bukanlah muadzin tadi), melantunkan iqamah dengan suara dan langgam yang indah. Segera, seseorang yang lain langsung maju dengan tenang ke depan untuk memimpin shalat. Sang Imam tampak masih muda, perawakannya sedang dan di punggung bajunya terdapat tulisan nama perusahaan operator parkir. Sepertinya imam tersebut memang petugas parkir. Subhanallah.

Tampaklah sudah bahwa sudah ada pengurus takmir masjid di tempat ini. Pelaksanaan shalat tidak serba insidental, melainkan sudah teratur rapi. Siapa mereka, para pengurus masjid? Sejauh yang terlihat, belum hadir profil para elite manajemen yang ikut menanganinya.

Itu justru terasa sangat indah. Ada gambaran kontras yang menyejukkan hati. Dibandingkan dengan mereka (muadzin, petugas qomat dan imam shalat), sebagian besar jamaah memiliki penampilan yang jauh lebih perlente, modis atau bergaya. Hal yang tentu alamiah saja mencerminkan kemampuan ekonomi, gaya hidup dan selera berpakaian. Tapi, di mesjid ini, di Rumah Tuhan, semua membaur tanpa melihat latar belakangnya. Masjid secara lembut dapat menjadi tempat rehat, lokasi refreshing, berpaling sejenak dari gemerlap dunia tanpa merasa beda. Sarana ibadah shalat bahkan mampu memberi kontemplasi yang singkat tapi mengena.

Sholat maghrib berlangsung khidmat. Selepas salam, pergantian jamaah untuk shift kedua segera dilaksanakan. Jamaah gelombang pertama bahkan tak sempat melakukan sholat sunat, karena kerumunan yang menunggu giliran banyak sekali. Tentu, tampaknya semua menerima dengan keikhlasan yang nyaris sempurna. Sebab, sebagian jamaah pun memang harus kembali pada jadwal kerjanya, sebagian lagi melanjutkan belanja, cuci mata, makan malam atau keperluan lainnya.

Post a Comment

Tidak ada komentar