Mbah Tris


Mbah Tris, begitu namanya dipanggil. Usianya sudah sepuh, 77 tahun, badannya kurus dan pakaiannya sangat bersahaja. Ia menolak untuk memakai sandal. Jika berjalan, langkahnya pelan-pelan saja.

Rumahnya berada di sebuah padukuhan di wilayah Sleman bagian barat. Sebuah tempat tinggal yang menunjukkan taraf kehidupan keluarganya berada di bawah garis kemiskinan. Meski serba minim, setiap hari orang tua yang seharusnya sudah pensiun dan menikmati usia senja tersebut masih 'beredar' mencari barang-barang rongsokan.

Ia tergiur mengikuti jejak salah satu anggota keluarganya yang berjualan barang rongsokan, orang sini menyebutnya 'rosok'. Sebabnya, "nggo tuku udud." Demikian ujar anak perempuannya yang bekerja sebagai buruh bangunan.

Pagi tadi, Mbah Tris sejatinya berjalan seperti biasa saja, berniat mencari 'rosok'. Tapi naas, ia melanggar larangan anaknya untuk tidak usah keluar kampung, apalagi menyeberang jalan.

Seorang perempuan pelayan kesehatan masyarakat sedang melesat menggunakan sepeda motornya, di saat yang sama. Ia berusaha mengejar jadwal kerja, melewati jalan lurus di tengah pesawahan yang luas, dan sudah mendekati tujuan. Puskesmas tempatnya berdinas hanya tinggal beberapa menit saja.

Mbah Tris tidak tengok kiri-kanan, ketika insiden itu terjadi. Rem sepeda motor tak kuasa mengelakkan benturan dan dalam beberapa detik dua tubuh tergeletak di jalan yang cukup ramai tersebut.

Seorang pasien Puskesmas, bapak-bapak, mengenali istri saya yang terduduk di atas jalan, luka-luka dan kesakitan. Beberapa bagian tubuh lecet-lecet dan berdarah. Kaca lampu motor yang dipakainya pecah. Sementara itu, Mbah Tris kondisinya sama memprihatinkan.

Bapak Penolong yang berhati mulia tersebut membantu mengurus dua korban kecelakaan, mencarikan angkutan ke Puskesmas, agar segera mendapatkan penanganan.

Setelah mendapat pemeriksaan dan perawatan, Mbah Tris diizinkan Puskesmas untuk dibawa pulang. Meski mendapat jahitan, tidak ada tanda-tanda yang mengharuskan orang tua malang tersebut untuk dirawat inap atau  mendapatkan tindakan lanjutan. Ia dibekali obat dan seluruh biayanya ditanggung oleh BPJS.

Lain halnya dengan istri saya, ada memar yang cukup besar dan agak mencurigakan di sekitar lutut. Ia tak mampu berdiri dan ada kekuatiran terjadi fraktur di kaki kanan.

Saya terenyuh melihat Mbah Tris akan dibonceng menggunakan motor untuk pulang ke rumahnya. Keluarganya tak terlihat sigap mengurusi Simbah. Belakangan, saya tahu bahwa satu-satunya laki-laki anggota keluarga yang datang ke Puskesmas pernah dua kali kecelakaan, tak mampu diandalkan.

Tapi, itu ternyata belum seberapa memilukan. Sewaktu mengantar Simbah ke rumahnya, barulah ketahuan bahwa nasib orang tua tersebut memang sungguh membuat hati makin teriris.

Mbah Tris diurus oleh dua anak perempuan yang memiliki masalah kejiwaan, sementara anak perempuan yang lain - seorang buruh bangunan- sudah berumah tangga dan hidup di lain kampung. Anak terakhir, berada di luar Jawa, ikut transmigrasi. Istri Mbah Tris sendiri sudah sepuh, tak mampu lagi mengurus suaminya. Anak perempuan Mbah Tris, di dalam mobil menangis menceritakan kondisi bapaknya. "Bapak kula niku miskin sanget...."

Siang menuju sore, keadaan istri saya sudah diketahui dengan lebih jelas. Di RS, foto rontgen dan keterangan dokter membuat hati menjadi lebih tenang. Dalam berbagai kasus kecelakaan lalu lintas yang mirip, keadaan bisa jauh lebih fatal akibatnya.

Tapi, di atas atas rasa syukur dan lega itu, bayangan tentang Mbah Tris tetap mengusik perasaan. Setelah menyempatkan menelepon anggota keluarganya, niat untuk mengunjunginya esok lusa semakin kuat tertanam. Meskipun anaknya berulang kali meminta maaf, karena Mbah Tris menyeberang sembarangan, tetap saja musibah adalah musibah. Tak ada yang benar-benar mampu memperhitungkan, bukan?

Post a Comment

No comments