Sang Pengemis dan Uang Receh


Kisah ini benar-benar terjadi, tercantum di pojok kanan bawah harian Kedaulatan Rakyat, Jogja. Meski sepertinya sederhana dan lucu, sebenarnya membawa makna yang cukup dalam.

"Recehannya dikumpulkan, nak, besok kalau sudah ngumpul saya tukar pakai lembaran," kata Ibu Penjual Sembako (budhe-nya penulis cerita) di Pasar Gamping, Yogyakarta, sambil memberikan sekeping uang Rp. 500 kepada seorang pengemis.

Lewat beberapa lama, Sang Pengemis datang lagi ke Ibu Penjual Sembako. Tak dinyana, dia benar-benar membawa hasil 'perintah' yang diberikan.

"Ini hasil ngemis berapa minggu?" kata Ibu Penjual Sembako ketika Sang Pengemis datang lagi sembari 'menyetor' uang receh yang berhasil dikumpulkannya. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, sebanyak Rp. 280.000!

"Tiga hari, Bu," jawab yang ditanya dengan santainya.

Ternyata dalam tiga hari saja Sang Pengemis dapat mengumpulkan uang sekian. Bukan rahasia lagi, bahkan peenah menjadi bahan berita media nasional, ramai pula dibicarakan publik, bahwa mengemis dapat memberi hasil yang mencengangkan.

Terlepas dari pro-kontra tentang pekerjaan tersebut, jika boleh disebut pekerjaan, sesuatu yang nampak sepele, bahkan kadang diremehkan orang, ternyata sebenarnya kadang menyimpan sesuatu yang besar dan mengagetkan.

Post a Comment

No comments