Perebutan Dua Bungkus Nasi Sayur Kemuliaan

Saudaraku, ini adalah kisahku. Izinkan kubagikan dengan harapan kiranya dapat membawa manfaat dan kebaikan.

Kami adalah suami-istri warga Klaten, Jawa Tengah, yang kebetulan sempat beberapa waktu lamanya berada di R.S. Dr. Sardjito, Yogyakarta. Lebih kurang dua bulan kami menunggui buah hati yang diopname karena mengalami kebocoran jantung dan terkena virus Rubella. Sebelum dirawat di rumah sakit tersebut, sebelumnya anak kami sempat dirawat sebulan lamanya di R.S. Tegalyoso.

Ada suatu kejadian yang tak bisa kulupakan di antara hari-hari panjang yang penuh ujian fisik dan perasaan tersebut. Tiga bulan mendampingi anak yang sakit, memang menguras semua kemampuan dan kesanggupan kami. Tapi, demi melihat kondisi buah hati, kami tahu bahwa apa yang dirasakannya jauh lebih menyakitkan. Air mata, tenaga dan biaya sudah tercurah semuanya.

Suatu waktu, kami sudah hampir kehabisan uang, hanya tersisa Rp. 15.000 saja. Bagaimanapun, saya tetap pergi ke kantin, bermaksud membeli makan untuk kami berdua. Karena sudah cukup lama berada di rumah sakit, sudah tahu harga berbagai menu makanan yang tersedia, maka kupilih memesan seadanya uang saja.

"Bu, kulo tumbas maem nasi sayur lima belas ribu dibagi dua, sak angsale mawon (bu, saya beli makan nasi sayur lima belas ribu dibagi dua, sedapatnya saja)," kataku memesan sesuai dengan jumlah uang yang tersisa. Aku tahu kalau ditambah lagi lauknya maka uang itu mungkin tidak akan mencukupi.

Ibu penjual bertanya kenapa aku tidak pakai lauk dan lain-lain. Kujawab bahwa memang uang lima belas ribu rupiah itulah yang tersisa, takut tidak cukup atau kurang. Seorang bapak-bapak, kebetulan sedang makan di kantin itu, ikut mendengarkan percakapan kami.

Ibu penjual bertanya lagi tentang sudah berapa lama aku menunggui pasien di rumah sakit, siapa yang sakit, sakitnya apa dan sebagainya. Kujawab semua pertanyaannya, apa adanya.

Tiba-tiba Bapak di sebelahku ikut buka suara, "mpun, Bu, kersane mbake milih ajeng dahar nopo, mangke kulo bayare sekalian (sudah, Bu, persilakan saja mbaknya mau makan apa, nanti saya bayar sekalian)," katanya.

"Mboten sah (tidak usah), Pak," jawab Ibu penjual makanan sembari lalu mempersilakanku mau memilih lauk apa.

Aku menyaksikan Bapak pembeli dan Ibu penjual makanan saling berebut ingin memberiku makanan. Hatiku tersentuh dan segera saja air mataku mengalir. Setelah makanan dibungkus, kubayar dengan uang lima belas ribu rupiah yang kubawa. Ibu penjual hanya mau menerima sepuluh ribu saja.

"Yang lima ribu buat pegangan mbak," katanya.


Sekian lama menemani Si Kecil di rumah sakit, akhirnya takdir berkata lain. Anak kami tak kuat lagi lama-lama menahan dan melawan sakit yang dideritanya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di PICU.

Di tengah-tengah segala kesulitan, kesedihan dan hari-hari yang panjang, ternyata masih kutemukan hati yang penuh kebaikan. Empati dan kasih sayang kemanusiaan. Semoga Bapak pembeli dan Ibu penjual makanan selalu diberi kesehatan dan dimurahkan rejekinya.

Buatku, kisah ini menghiasi pula satu sudut lain di Kota Jogja Istimewa.

Sebagaimana diceritakan Risty Dargo di laman fb ICJ, 11 Juni 2017.

Post a Comment

No comments