Suatu Pagi untuk Siti dan Hamdan

Siti memegang erat tangan Hamdan. Kesabaran suaminya itu lebih hangat daripada sinar matahari pagi yang menjalari wajahnya. Ya, hangat dan menentramkan. Ia tak mau manukarnya dengan apa pun. Kebahagiaan, adalah ia selalu berada bersama suaminya. Seperti saat ini, berdiri di atas trotoar, menanti kesempatan menyeberang, di antara ramainya lalu-lalang kendaraan.

“Syukurlah, Pak Haji mau meminjamkan uang, ya, Mas.”
“Iya, Jeng.”

Selalu, panggilan ‘Jeng’ memberinya secercah harapan, sekaligus tambahan kekuatan untuk menghadapi kehidupan. Seolah suara-Nya di saat-saat yang menentukan. Hampir putus asa memikirkan biaya kontrakan, hanyalah salah satu episode di antaranya. Sayangnya, terlalu banyak pengulangan tentang uang dan uang.

fallen leaves, pic: FreeGreatPicture.com

“Uang? Lagiii?” kekesalan meledak dari mulut Karto. Aroma arak menyeruak lagi. Lelaki kurus itu sudah semalaman menyetir dan muatan truknya harus sampai di tujuan pagi ini. Lelah dan terkantuk-kantuk. Sebelum kehabisan tenaga, ia menenggak beberapa sloki ‘penambah tenaga’. Kesadarannya perlahan-lahan menguap. Mendengar kecerewetan istrinya, hanya melengkapi penderitaannya. Ponsel digenggamnya, sambil meracau tak karuan. Juki, kernetnya, hanya melirik, tak berani berkomentar apa-apa. Diam-diam kuatir juga, saat injakan pedal gas ditambah Karto.

Haji Hasan melihat mereka dari seberang jalan. Ia selalu terkagum-kagum pada Siti dan Hamdan. Mesra dan tabah, dalam kebersahajaan. Amplop uang sudah disiapkannya, terselip di saku baju kokonya. Pasangan itu mulai menjejakkan kaki mereka di aspal, dipandu tongkat putih Hamdan yang setia. Ketika itulah Karto meneriakkan serapahnya, saat suara ban truk yang terlambat direm, menjerit di udara.

#225kata dari @yoezka

Post a Comment

No comments