Sahabat Di Dalam Syurga

Detik-detik yang amat genting, tak pernah ia bayangkan. Ini tragedi. Tadi, kemenangan sudah di pelupuk mata. Kini, kehancuran makin menjelma. Ah, andai pasukan di atas bukit sana tak lengah....

Ia bersiaga dengan seluruh kemampuan yang tersisa. Letih. Perih. Rembesan darah terus memaksa keluar lewat luka-luka di tubuhnya. Tapi, ia tetap berdiri. Meski tubuhnya mulai bergetar, pandangannya kian nanar.

Di antara kengerian medan pertempuran Uhud, pekik manusia temui ajalnya, gemuruh kuda menghentak-hentakkan kakinya dan desing anak panah menggapai sasarannya, keadaan yang dihadapinya sekarang jauh lebih berbahaya dari sekedar ancaman kematian baginya.

Ia tak gentar dengan kematian. Demi Rasulullah ia rela berada di tanah Uhud yang membara. Medan perang ini adalah halaman syurga, dan ia sedang mengetuk-ngetuk pintunya. Jika ia mati, itulah kematian terbaik dambaannya. Tapi apa jadinya jika sesuatu menimpa Rasulullah, panutannya, pemimpinnya? Bagaimana nasib Islam selanjutnya?

Bersama belahan jiwa dan dua anaknya, ia menjadi bagian dari segelintir pembela yang tersisa. Tak lebih dari sepuluh orang jumlahnya. Mereka menjadi tameng hidup Rasulullah. Sementara itu, pasukan musuh terus menghantam-hantamkan serangan maut mereka.

Ketakutan menerkam jiwa-jiwa. Bukan satu dua mujahid yang memilih lari meninggalkan kewajibannya. Tapi, ia bertahan. Tegar. Tangannya menggengam erat perisai yang tadi dipungutnya. Tameng itu dilemparkan seseorang yang tunggang langgang dan Rasulullah berseru pada orang tersebut, “berikan saja tamengmu untuk orang yang sedang berperang!”

Seorang anggota pasukan berkuda musuh berusaha memukulnya. Ia berlindung menggunakan tameng. Serangan itu luput dan saat sang musuh berpaling, secepat kilat ia memukul kuda dan punggung orang tersebut. Anaknya ikut bergerak membantu, atas perintah Rasulullah. Ia akhirnya berhasil menghabisi nyawa si penyerang. Begitulah, ia dan anaknya adalah benteng kokoh yang tak dapat ditembus musuh. Rasulullah pun tersenyum.

Tapi luka lebar di punggungnya terus mengucurkan darah. Seorang musuh bernama Ibnu Qumaiah telah mendekat dan berteriak-teriak menanyakan mana Muhammad. “Aku tak akan selamat kalau Muhammad masih hidup!” sesumbarnya. Mushab bin Umair, beberapa sahabat lain dan dirinya segera tampil menghadang. Serangan orang itu sangat berbahaya dan itulah yang telah merobek punggungnya dengan sangat parah.

Anaknya membantu membalutkan luka akibat serangan itu, diperintah oleh Rasulullah di tengah-tengah suasana gawat. Tapi bukan balutan kain yang seolah seketika menyembuhkannya. Doa Rasulullah-lah yang tiba-tiba membangkitkan lagi semangat juangnya. Doa itu membuatnya tak memperdulikan lagi dunia dan seisinya, demi Allah dan Rasul-Nya.

***

foto: freegreatpicture.com
“Pahlawan Islam yang Ibu ceritain ini pasti laki-laki gagah seperti kakek buyut, ya, Bu?” Aisyah menunjuk foto tua di dinding rumah. Foto wajah renta seseorang yang konon pejuang kemerdekaan RI, itulah yang sering dikatakan ayahnya. Anak perempuan itu lantas cemberut dan mulai merajuk, “Aisy juga cita-citanya kan kayak Mas Umar, pengen jadi pahlawan!”

Ibunya tersenyum sembari menaruh buku di atas meja. Ia mengelus Aisyah, buah hatinya, penuh kasih sayang.

“Aisy, Rasulullah waktu itu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya menjadi sahabatku di dalam syurga....’ Nusaibah binti Kaab atau Ummu Imarah itu kan perempuan, sayang. Kita, para perempuan, sejak dulu kala juga bisa jadi pahlawan, lho!”

Aisyah, sepasang mata bulat dan lucunya bersinar-sinar. Wajah mungilnya sejenak terperangah lalu segera memancarkan kegembiraan dan kebanggaan. Langkah kakinya nampak ringan menuju kamar tidurnya, selepas sebuah kecupan manis untuk ibunda tercinta.(@yoezka)

Post a Comment

No comments