Duel Dua Arthabon


Usianya tak muda lagi, tapi kegagahan tak beranjak meninggalkannya. Gaya berjalannya khas, ‘tak layak dimiliki kecuali oleh seorang pemimpin’, begitu kata Amirul Mukminin. Pembawaannya merupakan pencerminan kekuatan seorang jenderal, keyakinan pejuang pembebas dan sekaligus kharisma orator yang luar biasa. Tak salah, jika bersamanya puluhan ribu pasukan siap bertempur, meski harus bertempur di lembah-lembah kematian wilayah Syam.

Sorot matanya teramat tajam. Tatap yang memancarkan kecerdikan, kehati-hatian dan keyakinan yang dalam. Semua tindakannya seolah memiliki rangkaian kemungkinan-kemungkinan lanjutan yang tersusun rapi. Soal taktik dan strategi, ia memang boleh dikatakan tak ada tandingannya.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti pada detik-detik yang menentukan. Kelebat beberapa bayangan membunyikan alarm kewaspadaaannya. Ia sejak awal tak terpedaya oleh sambutan dan penghormatan. Undangan yang diterimanya tak akan lepas dari kemungkinan sebuah muslihat. Musuh tetaplah musuh, hingga perang berakhir.

Ia membalikkan badan, berjalan dengan tenang mendekati tempat pertemuan. Wajahnya samasekali tak menunjukkan ketegangan saat menghampiri kembali arthabon, komandan benteng, yang didampingi prajurit-prajurit Romawi bawahannya.

“Tuan Panglima...,” katanya bersungguh-sungguh, tak hiraukan lawan bicara yang sedang berusaha keras menyembunyikan keterkejutan, “aku terpikir sesuatu... kedatanganku ke sini disertai orang-orang terbaik yang termasuk kelompok awal pengikut Nabi kami. Mereka selalu dilibatkan pemimpinku dalam pengambilan keputusan, bahkan menyertaiku untuk mengawasi di medan peperangan. Bolehkah kuajak mereka ke sini, supaya mendengar juga apa-apa yang kita bicarakan tadi?”

***

Suatu pagi, selepas subuh, nan bergemuruh. Ia menepati janji untuk kembali ke benteng Arthabon Romawi. Tapi, kedatangannya disertai deru angin pembalasan yang menderu-deru. Puluhan ribu manusia menyertainya untuk meraih hidup mulia atau mati syahid.

Ketika ia dapat keluar dari benteng musuh dengan selamat, saat itulah sebenarnya kemenangan berada dalam genggamannya. Kisah lolosnya panglima kaum muslimin ini bahkan dicatat dengan tinta emas sejarah.

Kepalanya terhindar dari hantaman batu yang ditimpakan oleh pasukan musuh, pada saat-saat terakhir akan meninggalkan benteng kokoh itu. Ia, yang tetap tenang, menawarkan untuk mengajak para pemimpin kaum muslimin untuk dibawa ke dalam benteng untuk berunding kembali. Sebuah tawaran manis yang menghadirkan harapan indah Arthabon Romawi untuk dapat menghabisi banyak ‘orang-orang penting’ pasukan kaum muslimin sekaligus.

Keyakinan Amirul Mukminin yang mengatakan akan ‘melawan Arthabon Romawi dengan Arthabon Arab` terbukti sudah. Duel dua panglima perang itu berakhir dengan catatan kemenangan gilang gemilang Sang Arthabon Arab: Amr bin Ash.

Post a Comment

No comments